Puisi Yang Hilang

Bogor, 7 Juli 2002

Karya itu lepas dari genggamanku

Seolah angin cemburu pada imajinasiku nyata

Sulit sudah inspirasi yang sama datang lagi

Sesal, resah seperti hilang kehormatan

Karya itu berlalu bagitu saja

Satu pesan terkirim ke dalam benak direlung

Tiada sampai kesempatan hidup yang dipunya,

Seperti puisi yang hilang

Terjadi tanpa sempat memberi indah pada dunia

Lewat Jam Sembilan Malam

Bogor, 26 April 2002

Lampu neon terus mengusir gelapnya mata

Suara detak jam mengajakku berbicara

Menemaniku agar aku terjaga

Sungguh kekuatan itu telah datang juga

Ribuan barisan tulisan dan angka,

Berteriak minta dibaca

Dengan riang mataku mengabulkannya

Kertas burampun telah memberiku makna

Diatas sebuah buku ada usahaku

Biarkan semangat bercanda dengan ilmu

Agar indah masa depanku

Cinderamata Jalan Juanda

Bogor, 26 April 2002

Sebuah cerita tercipta

Ketika peristiwa datang bersuara

Maka penaku mulai berbicara

Bukan tentang masa yang lalu

Tapi tentang masa yang kita jelang

Untuk sebuah cita-cita

Kita telah mencoba untuk goreskan warna

Pada lukisan masa depan

Semua yang kamu impikan

Berbagai visi yang kau pandang

Begitulah, waktunya telah tergambar

Dari saat ini

Untuk kesekian kali terjatuh

Kita tetap harus bangkit dan berdiri

Tiada yang memandu

Tiada yang ulurkan tangan

Kita harus berjalan sendiri

Membuat kita tangguh dan menjadi dewasa

Gagal kita sukses yang tertunda

Angkat semangat dan luapkan

Ini kita bagian kecil dari dunia

Ini kita seorang muda yang berlayar bijak

Yang tiada mudah putus asa

Yang tiada mudah berbangga

Untuk menjadi rendah hati

Tapi kelak jika Tuhan punya rencana

Kita yang jadi panglima

Untuk pimpin dunia dan segala bangsa

Menjadi manusia berguna

Hormat dan kemuliaan bagi nama bangsa tercinta

Jangan kita lupa!

Dekatkanlah dirimu dari Yang Kuasa

Jaga iman dan ibadahmu dengan setia

Tulus dan jujur budi melengkapi

Menentang hitamnya moral dunia

Fajar selalu setia menanti

Menatap cerahnya hari

Di saat waktu terus berjalan dan berlalu

Memaksa kita maju menyambut masa yang datang

Selamat tinggal untuk sebuah tempat

Yang membekali diri dengan makna

Santun kata dan puji terucap

Untuk JUANDA ENAM BELAS

Bius Kantuk Di Tengah Hari

Bogor, 20 Maret 2002

Suara gaduh terdengar sayup

Kelopak mata memberat

Kemudian akhirnya terpejam

Nafas mengatur diri, letih

Tak lama hening

Semuanya telah terdiam

Cahaya dunia meredup

Perlahan-lahan…..lepas

Gelap-gulita tiada suara

…..pet…..

Pulas

…….z…z…z…….

Nirmala di Nirwana

Bogor, 20 Februari 2002

Surgamu ada disana

Entah kapan kamu kesana

Pulang kembali indah rasanya

Tiada kata yang lebih bisa bicara

Inilah tempatnya, bahagia paling sempurna

Nirmala yang suci berada

Orang percaya kasihNya, upah kekal disana

Alangkah berharga Kitab Kehidupan berbicara

Nama kita telah tertera

Dosa pun tiada ada

Alangkah damainya

Ramah hati tenangkan jiwa

Suara merdu nyaman terasa

Waktu malaikat bernyanyi bersuka cita

Enyah sudah duka lara

Semesta alam kehidupan kedua

Adalah Sang Juru Selamat rajanya

Minoritas Hitam

Bogor, 18 Agustus 2001

Aku adalah kaum terbuang dari komunitas ini. Aku yang tersisihkan dari dunia yang menganggap aku tak beradab. Tidur beralaskan trotoar jalanan atau di emperan toko. Langitlah yang menjadi atap rumahku. Angin malam menjadi selimut diwaktu tidurku. Dan lampu jalanan yang jadi lampu tidurnya. Aku dibesarkan oleh kerasnya siang yang panas dan oleh kejamnya malam yang dingin. Pada akhirnya rimba kota yang tidak bersahabat ini telah menjadi rumah sekaligus taman bermain.

Inilah aku yang jahat dari hatiku yang hitam. Yang terkekang oleh kelamnya hidup. Destruktif, Anarkis, Kriminalis adalah stereotype tentang personalisasiku. Aku senang bisa membagi derita kepada mereka yang menganggapku sampah. Aku menjadi bangga akan keresahan dan ketakutan yang kuciptakan kepada mereka yang mencampakanku. Iri, sirik, dengki, dan dendam telah membenak. Membuat aku tidak senang bila orang lain senang. Anti sosial telah lahir menjadi pribadiku.

Mereka berkata aku salah. Mereka membenci diriku. Mereka menciptakan hukum hanya untuk menghancurkan kaum sepertiku. Menurut hukumnya mereka, aku harus ditangkap, dipenjarakan, pantas untuk disiksa dan kalau perlu dimusnahkan. Bagi mereka kasih sayang untukku adalah berbagai pukulan dan pendidikan untukku adalah tendangan aparat. Sepertinya hidup ini tidak adil bagiku. Penjara tidaklah menjadikan aku normal seperti mereka yang disebut masyarakat. Penjara malah menjadi tempat yang makin menghitamkan naluri batil dan membekukan nuraniku sebagai manusia.

Hati suci ini terkunci jauh di dalam dasar batinku yang bisu. Aku tersenyum dalam tangis, ketika aku berfikir bila dipaksa singgah dan tinggal di hotel prodeo. Setidaknya aku bisa makan gratis. Aku juga bisa menangis dalam senyuman, bila kusadari bahwa ternyata ada yang pasti masih mengerti dan memaafkan hidupku yang kelam, walau hanya Satu Pribadi yang beriku nafas.

Menikmati Udara

Bogor, 22 Januari 2002

Udara dingin di siang hari ini

Hujan jatuh kebumi entah berapa hari lagi

Tanah basah, tapi kunikmati dengan lembut hati

Hening suara bumi meresapi

derasnya airmata Sang Mega yang sedang pundung

Langitpun telah menangisi Bumi pertiwi yang terluka ini

Memang benar, negeri tercinta Banyak yang perlu ditangisi

Suara nurani bilang sedih

Tetapi cerita duka ini harus tetap kunikmati

Agar kuat menjalani hidup.

Hello world!

Hello World !!!

Hello World !!!

Finally, I start my new blog!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.